My sweet two thousand and eighteen
Sudah beberapa minggu berlalu, tetapi aku masih belum percaya bahwa pada akhirnya ada seseorang laki-laki pemberani yang datang kerumahku, menemui ayahku untuk menghitbahku. Bahkan sampai saat ini, aku masih begitu senang memandangi jari manisku. Yang mana dahulu kosong tanpa pernah dihiasi pernak pernik ataupun emas, kini sudah melingkar dengan sempurna cincin khitbah dijari manisku. Rasanya seperti mimpi saja. Awal tahun yang begitu manis, ku harap akan seterusnya manis. Perasaan kosong, hampa, sendiri , yang begitu banyak menguras air mata, kini terbayarkan sudah. Laki-laki yang bahkan untuk membayangkannya saja aku tak pernah, beberapa minggu yang lalu dia telah datang kerumahku bersama keluarganya untuk mengkhitbahku. Nalarku yang biasanya pandai nan mahir dalam mengajar bahasa asing, te...