Lepas IUD yang berujung Operasi Histeroskopi


Tenang, jangan panik hanya karena membaca judulnya, karena mau pakai KB apapun itu pasti ada resikonya bukan? Jadi, sekarang duduk yang rileks dulu ya. siapkan camilan karena cerita kali ini sedikit lebih panjang. Oke langsung aja ke point utamanya, kenapa sampai bisa iudku melintang dan berujung operasi? Here we go.

Kejadian berawal saat aku hendak lepas dan pasang IUD baru. Aku datang ke salah satu klinik dokter kandungan favoritku semenjak 2018 silam, meskipun aku sedikit gemetar saat itu karena takut prosesnya akan sakit. Dan benar saja setelah dilakukan percobaan lepas IUD beberapa menit, aku mengalami sakit yg teramat hebat. Waktu itu aku datang ke klinik saat menstruasi hari ke 4 sesuai arahan dari klinik ketika melakukan reservasi di whatsapp, yang mana pada waktu itu darah sudah tidak banyak dan hanya sisa-sisa darah saja yang keluar. 

Setelah dicoba untuk USG ternyata IUDku melintang, dokter sudah mencoba untuk melepas IUD lagi namun aku tidak kuat dan meminta untuk berhenti saja karena rasanya sakit sekali. Menulis ini sembari membayangkannya saja aku sudah sedikit mulas hehe. Akhirnya setelah selesai percobaan lepas IUD yang gagal aku bertanya, apakah bisa lepas IUD dengan menggunakan bius? Dokter menjawab bisa, asalkan lepasnya di Rumah Sakit karena harus ada ahli anastesi. Dan dokter juga menyarankan agar aku ke RS saja untuk melepas IUDku ini.

Sebulan kemudian, kuputuskan ke Puskesmas terlebih dahulu untuk meminta surat rujukan guna melakukan tindakan lepas IUD ke Rumah Sakit. Jujur moment ini lebih menegangkan karena aku melihat sendiri salah satu bidannya agak galak :/ takut sekali ketika dicoba lagi proses lepas IUD akan lebih menyakitkan daripada yang pertama. Tapi syukurlah ternyata tidak sampai dilakukan percobaan lepas IUD lagi karena aku sudah menceritakan terlebih dahulu apa permasalahanku. Tidak menunggu lama jadilah Surat Rujukan yang kuminta. Dan kali ini aku memilih RSPGD untuk melakukan proses lepas pasang IUD.

Setelah sampai di RSPGD, aku menceritakan hal serupa yang pernah ku ceritakan pada petugas Puskesmas kapan hari. Kemudian dokter melakukan tindakan USG dan memang benar IUDku sudah melintang. Dokter menyarankan agar aku melakukan tindakan operasi di RSUD saja, karena RSPGD tidak bisa mengcover tindakan ini dengan asuransi BPJS. Pada akhirnya aku dibuatkan kembali surat rujukan ke RSUD guna untuk melakukan tindakan operasi disana. 

Tidak menunggu waktu lama, esok harinya aku datang ke RSUD dengan tujuan yang sama, ke poli obgyn. Setelah menceritakan apa keluhanku dan tibalah saatnya pemerikasaan menggunakan cocor bebek itu lagi  jujur rasanya trauma, takut kalau sakit itu terulang kembali. Setelah dicoba untuk mengeluarkan IUD selama kurang lebih 7 menit, ternyata IUD tetap tidak bisa keluar. Untungnya saat itu aku sedang menstruasi hari pertama, jadi ketika proses ekstraksi IUD berlangsung tidak begitu sakit seperti waktu pertama kali. Aku mengira mungkin karena serviksnya sedikit lebih lentur, sehingga tidak timbul nyeri yang hebat. cmiiw

Setelahnya dokter menjelaskan kepadaku bahwa beliau tidak bisa melihat dan merasakan benang IUDku, sehingga proses lepas IUDnya menjadi susah. Beliau juga memberitahu kalau memang perlu tindakan operasi histeroskopi. Operasi ini hanya bisa dilakukan di RS besar seperti RS Soetomo atau RSUA. Setelah menimbang dengan matang, akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan histeroskopi di RSUA. 

Anyway sedikit informasi mengenai tindakan operasi histeroskopi ini, jadi ini salah satu prosedur medis yang dilakukan untuk melihat langsung bagian dalam rahim (uterus) menggunakan alat yang disebut histeroskop.  Alat ini dimasukkan melalui miss v → melewati leher rahim (serviks) → hingga masuk ke rongga rahim tanpa perlu membuatan sayatan di perut. Sumber : chat GPT

Setelah tiba di RSUA dan menuju poli obgyn untuk melakukan pemeriksaan, aku menceritakan semua dari awal hingga akhirnya kenapa bisa dirujuk kesini. Sewaktu pemeriksaan pertama kali aku memohon agar tidak perlu lagi untuk dicoba ambil IUDnya menggunakan cocor bebek dan serangkaian alat lainnya karena cukup dicoba 2x rasanya sudah bikin kapok. Alhamdulillah dokterpun menyetujui dan hanya melakukan pemeriksaan dalam dengan jari dan alat USG trasnvaginal. Meskipun ini tetap tidak nyaman, tapi paling tidak ini tidak sesakit saat melakukan ekstraksi IUD. 

Dan ya, IUDku memang sudah jalan-jalan sampai miometrium untuk itu perlu dokter spesialis fetomaternal yang menangani. Jadilah dijadwalkan ulang untuk menemui dokter fetomaternal pada minggu depan. Long story short tibalah saat pemeriksaan kedua di RSUA, bertemu dengan dokter spesialis fetomaternal. Dilakukan USG transvaginal kembali untuk memastikan letak IUD. Setelahnya dokter menentukan tanggal operasi dan memintaku untuk mengurus administrasi ke ruang operasi dilantai 7. Setelah selesai semuanya, aku diminta untuk datang lagi minggu depan guna melakukan serangkaian tes di lab. 

Kurang lebih ada 10x aku bolak balik RS untuk persiapan operasi histeroskopi ini. Oh hampir saja terlupa aku juga diresepkan pil microgynon dua minggu sebelum operasi berlangsung. Lalu dilanjut dengan thorax dan melakukan pemeriksaan di poli jantung. Melakukan serangkaian tes jantung dengan beberapa kabel yang ditempelkan di dadaku. Alhamdulillah mulai dari tes thorax dan pemeriksaan jantung semuanya aman tanpa ada kendala. Namun lagi lagi masalah 5 tahun silam saat aku hamil tidak kunjung hilang juga. Yuuppp, ANEMIA. Karena Hbku rendah dan itu tidak memenuhi syarat untuk dilakukannya operasi, akhirnya aku diberi waktu seminggu untuk menaikkan kadar HB dengan mengkonsumsi maltofer sesuai yang telah diresepkan.

Seminggu setelahnya aku melakukan tes ulang, dan ternyata Hbku hanya naik menjadi 8,9. Tentu saja ini masih belum memenuhi syarat untuk bisa melakukan tindakan operasi. Setelah konsultasi dengan dokter akhirnya diputuskan harus melakukan tindakan transfusi darah H-2 sebelum operasi. Beberapa hari berlalu, tibalah saatnya aku melakukan rawat inap di RSUA. 

Hari kedua ketika aku ranap di RSUA, aku melakukan transfusi darah sebanyak 2 kantong. Ketika selesai 1 kantong, para perawat menanyakan apakah tidak ada efek samping seperti sesak atau gatal, dan saat itu aku bersyukur tidak ada efek samping apapun yang kurasakan. Namun semuanya berbanding terbalik ketika aku melakukan transfusi darah kantong kedua. Tidak lama setelahnya, seluruh badanku terasa gatal sekali. Bahkan muncul bentol-bentol disemua badan. Tidak menunggu waktu yang lama, suamiku bergegas menuju ke nurse station untuk meminta pertolongan agar rasa gatalku cepat mereda. Dan benar saja, ketika pewarat menyuntikkan obat lewat infus, hanya dalam hitungan menit badanku sudah tidak gatal lagi, disusul dengan bentol-betol diseluruh tubuhku hilang. Fyuhhh akhirnya aku bisa tidur dengan nyaman hehe.

H-1 sebelum operasi, perawat menghampiriku untuk memberi obat pencahar berupa sirup dan kapsul yang harus dimasukkan lewat jalur bawah. Wah benar saja tidak lama setelah minum obat pencahar, aku jadi auto bolak balik kamar mandi. Tidak lupa pewarat juga memberiku jubah operasi dan sabun antiseptik. Beliau mengatakan agar aku siap sedia sebelum subuh, mandi menggunakan sabun yang telah diberikan dan juga mengenakan jubah operasi. Meskipun ini operasi keduaku setelah operasi caesar, namun perasaan takut dan cemas masih saja meliputiku. Membayangkan betapa dinginnya ruang operasi, dan bagaimana jika aku tidak bisa sadar setelah tindakan operasi selesai. Rasanya amat sangat mengerikan. 

Akhirnya tibalah hari itu. Waktu menunjukkan pukul 10.00 dan ada satu perawat yang menghampiri keruanganku. Beliau sudah siap untuk menjemputku dengan membawa kursi roda. Rasanya sedikit aneh, karena aku sedang tidak sakit apapun tapi harus naik kursi roda untuk menuju ruang operasi. Perjalanan menuju ruang operasi menyusuri beberapa lorong yang tidak begitu pajang namun cukup banyak pasien serta para pendampingnya sedang duduk di sepanjang lorong yang kulewati. Mereka menatapku dengan tatapan mungkin heran dan kasihan sambil bertanya-tanya wah sakit apa? Kasihan ya masih muda :v entahlah hal itu yang terlintas dipikiranku.

Sesampainya di depan ruang operasi, suamiku kembali dimintai beberapa keterangan dan para perawat memastikan tentang persetujuan serta prosedur operasi yang akan kujalani. Aku juga berganti jubah lagi, kali ini dilengkapi dengan selimut tipis untuk menutupi area bawah, serta tak lupa pakai penutup rambut. Masih seputar didepan ruang operasi dan saat itu suhunya benar-benar dingin sekali. Aku yang sangat suka ruang dingin rasanya gak kuat kalau berlama lama disini, bagaimana dengan dalamnya ruang operasi nanti ya.  

Tidak menunggu waktu lama, akhirnya aku dibawa ke suatu ruangan lagi. Belum sampai masuk keruang operasi karena mungkin ruang operasinya sedang disiapkan atau ada operasi lain yang sedang berlangsung, aku tidak tahu. Tapi saat itu ruangan ini seperti ruangan para staff dan dokter bedah sebelum mereka masuk ke dalam ruang operasi. Aku menunggu sekitar 30 menit sambil terus berdoa agar semuanya berjalan lancar dan tentu saja agar rasa cemasku ini hilang. Padahal ini bukan termasuk operasi besar tapi enta kenapa cemasku ini berlebihan sekali.

Setelah 30 menit menunggu, AKHIRNYA AKU MASUK RUANG OPERASI. Sekali lagi, ruang operasi. Ruangan yang pertama kali aku masuki tahun 2020 silam demi melahirkan sang buah hati, kini agustus 2025 aku kembali memasuki ruangan ini. Jangan ditanya seberapa dinginnya, DEMI ALLAH INI DINGIN SEKALIIII. Meskipun aku masuk ruangan ini 2x tapi tetap gak bisa menahan diri dari rasa menggigil. Aku salut sih sama para dokter dan perawat, mereka sekuat dan sekeren itu bertahan diruang yang sangat amat dingin ini. Kalian keren sekaliii :)

Sebelum melakukan tindakan bius total, seingatku aku sempat diberi pertanyaan untuk memastikan beberapa hal seperti hari ini menjalani operasi apa? dll. Tidak lama setelah itu perawat izin untuk menyuntikkan obat bius dan setelahnya aku sudah tidak sadarkan diri. Yang kuingat saat itu aku sedang bermimpi rebutan buku dengan salah satu perawat dan berteriak. Tapi sepertinya saat itu ada suatu benda didalam mulutku yang akan diambil dan aku setengah sadar mulai batuk-batuk tapi tidak bisa membuka mata lebar-lebar karena masih terasa sangat mengantuk. Perasaanku baru saja dimulai bius, eh kok sekarang sudah selesai saja operasinya. 

Meskipun masih setengah sadar, aku ingat betul ketika beberapa perawat mendorong bedku menuju salah satu ruangan pasca operasi dan mereka sambil berbicara “wah anemia berat ya, aku yang anemia biasa aja pusingnya bukan main, apalagi yang berat seperti mbak ini”. Saat itu aku sangat amat kedinginan sampai menggigil sehingga hanya terdengar samar-samar percakapan beberapa perawat tadi. Lalu setelah sampai diruangan, ada salah satu perawat menghampiriku sambil sedikit membangunkanku dan menunjukkan benda kecil dalam plastik transparan. “ini IUDnya sudah berhasil diambil ya bu, dan IUD barunya sudah dipasang”.

Samar-samar aku melihat IUD itu berwarna cokelat dan putih dengan benang yang tidak begitu panjang. Perawat menanyakan apakah ini akan disimpan atau dibuang saja? Dan lagi-lagi dengan keadaan yang belum 100% sadar aku menyuruhnya untuk membuang saja wkwk padahal aku amat penasaran dengan benda mungil ini yang membuatku sampai masuk ruang operasi. Aku baru benar-benar sadar saat melihat jam menunjukkan pukl 14.30. kayak hah? Ternyata lama juga aku sadarnya ya. padahal seingatku masuk ruang operasi jam 11.00 siang tapi ternyata sudah selama itu. Rasanya seperti baru tidur 10 menitan :v

Entah kenapa setelah bangun dari bius total kepala rasanya pusing sekali, benar-pusing sampai terasa ruangan bergerak-gerak. Aku mencoba untuk membuat diriku sadar sebisaku namun tidak berhasil. Aku masih saja linglung serta kedinginan. Selama kurang lebih 1 jam aku berada diruangan itu, lalu perawat menghampiriku dan mulai mendorong bedku keluar ruangan. Sesampainya dipintu keluar, barulah aku mulai sedikit demi sedikit sadar karena melihat suamiku tepat di depan pintu keluar.

Suamiku tersenyum begitu melihatku, begitupula aku. Lalu kami kembali diantar keruang rawat inap dan aku mulai bercerita panjang lebar semua rangkaian sebelum tindakan operasi. Cerita kali ini cukup panjang ya, dan ada beberapa teman temanku sedikit kaget serta heran bagaimana bisa aku memutuskan pakai IUD lagi setelah mengalami kasus seperti ini. Jawabannya mudah saja, mau memilih KB apapun pasti ada resikonya. Tidak berKB pun beresiko untuk mempunyai anak lagi. Dan aku memilih resiko berKB karena aku dan suami berencana cukup mempunyai satu anak saja. Lain halnya jika IUD ini gagal lalu aku kebobolan hamil lagi hehe. 

Terimakasih ya sudah membaca cerita panjangku ini, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam memilih KB untuk para mama mama muda. Dan juga semoga kita semua sehat selalu dan diberi kebahagiaan yang tiada habisnya pada tahun 2026 dan ditahun-tahun berikutnya. :)


beberapa kenang-kenangan ditahun 2025 ini:D








Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Barang, Sedikit Stres: Seni Hidup Minimalis di Rumah

Hanasui Glow Expert Series